Banyaknya suku dan keanekaragaman budaya di Indonesia kaya akan kegiatan budaya yang dapat memajukan pariwisata di Indonesia. Adat istiadat di Indonesia adalah karakteristik yang dimiliki oleh hal ini terjadi karena Indonesia dibentuk karena persatuan kerajaan yang ada sepakat untuk mendirikan negara Indonesia.

Ini bukan milik negara lain. Meskipun tidak semua daerah di Indonesia telah membuat agenda festival budaya tahunan dan mudah-mudahan di masa depan ini dapat menjadi salah satu prioritas untuk mempromosikan pariwisata dan memperkenalkan budaya kita ke negara-negara asing.
Ada beberapa budaya di Indonesia yang telah dimasukkan dalam agenda acara tahunan di Indonesia.

Komunitas Pariman memiliki kegiatan tahunan yaitu festival Tabuk (Gambar: Youtube Surya Mahmud channel)
  1. Festival Tabuik

Komunitas Pariman memiliki kegiatan tahunan, festival Tabuk, yang telah berlangsung selama beberapa dekade (kira-kira abad ke-19 M). Kegiatan Tabuk adalah bagian dari peringatan kematian cucu Nabi Muhammad, Hussein bin Ali, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Dalam bahasa Arab 'ark' yang artinya peti mati kayu, mengacu pada legenda tentang penampilan makhluk dalam bentuk kuda bersayap dan kepala manusia yang disebut buraq. Legenda menceritakan bahwa setelah kematian cucu Nabi, sebuah kotak kayu berisi potongan-potongan tubuh Hussein diterbangkan ke langit oleh buraq. Berdasarkan legenda ini, setiap tahun orang-orang Pariaman membuat tiruan dari buraq yang membawa tabut di punggungnya.

Tabuik diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. (Gambar: Saluran Youtube Surya Mahmud)

Tabuik diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Yang berasal dari dua daerah berbeda di Pariaman.
Tabuik Pasa (pasar) adalah area di sisi selatan sungai yang membelah kota ke pantai-pantai di Pantai Gandoriah. Wilayah Pasa dianggap sebagai asal mula tradisi tabuik.

Subarang tabuik berasal dari daerah subarang (seberang), yang merupakan daerah di sisi utara sungai atau daerah yang disebut Kampung Jawa.

Dalam bahasa Arab 'ark' yang artinya peti mati kayu, mengacu pada legenda tentang penampilan makhluk dalam bentuk kuda bersayap dan kepala manusia yang disebut buraq (Gambar: Youtube chanel Surya Mahmud)

Rangkaian tradisi tabuik di Pariaman terdiri dari tujuh tahap ritual tabuik, yang mengambil tanah, menebang batang pisang, Mataam, mengarak jari, mengarak sorban, menaiki tabuik mengendarai pangkek, merobek tabuik, dan melemparkan tabuik ke laut.

2. Festival Reog Ponorogo

Festival Reog Nasional di Lapangan Ponorogo dalam rangka Grebeg Suro. Festival ini dihadiri oleh berbagai peserta dari seluruh Indonesia (Gambar: qolbunhadi.com)

Seperti Festival Tabuik di Pariaman yang diadakan untuk menyambut tahun baru Islam, masyarakat Ponorogo Jawa Timur juga mengadakan Festival Reog Nasional di Lapangan Ponorogo dalam rangka Sureb Grebeg. Festival ini dihadiri oleh berbagai peserta dari seluruh Indonesia. Diantaranya adalah dari Jogja, Gunungkidul, Madiun, Malang, Kediri, Surabaya dan daerah lainnya.

Seni Reog telah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Ponorogo dan masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Festival Reog Ponorogo juga diselenggarakan dengan kegiatan lain, yang merupakan ciri khas daerah tersebut.

3. Festival Budaya Dieng

Tanah, dijuluki tanah para dewa, memberikan pesona setiap tahun (Gambar: JAGAD 9 GIMBAL)

Tanah, dijuluki tanah para dewa, memberikan pesona setiap tahun. Festival Budaya Dieng yang diadakan setiap bulan Agustus, telah terkenal di mancanegara

Belum lagi upacara tradisional yang telah ditunggu-tunggu di DCF, yaitu acara ruwatan atau pemotongan gimbal. (Gambar: JAGAD 9 GIMBAL)

Sebuah festival tahunan yang berisi pertunjukan seni tradisional nusantara, pameran kerajinan khas Dieng, festival film, pesta lentera, untuk menyaksikan pertunjukan "Jazz on the Clouds" di tengah cuaca dingin Dieng. Belum lagi upacara tradisional yang telah ditunggu-tunggu di DCF, yaitu acara ruwatan atau pemotongan gimbal.

4. Festival Erau

Festival Erau biasanya bertepatan dengan peringatan Kota Tenggarong setiap 29 September. (Gambar: Gambar saluran donispro Youtube)

Festival Erau biasanya bertepatan dengan peringatan Kota Tenggarong setiap 29 September. Namun, mulai tahun 2010 implementasi Erau dilakukan pada bulan Juli untuk menyesuaikan dengan musim liburan sehingga banyak wisatawan datang.

Baca: Hastag Jangan Mati Sebelum Pergi ke Toraja

Festival Erau dimeriahkan oleh berbagai kesenian, upacara tradisional dari suku Dayak, dan kompetisi olahraga ketangkasan tradisional.

Festival Erau diperkirakan telah berlangsung sejak awal Kesultanan Kutai. (Gambar: Gambar saluran donispro Youtube)

Festival Erau diperkirakan telah berlangsung sejak awal Kesultanan Kutai. Tradisi tahunan ini telah berlangsung selama berabad-abad, bersama dengan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pada 2013, festival Erau disandingkan dengan acara budaya tradisional dari berbagai negara di Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF).

Seni dan tradisi di Kesultanan Kutai berdampingan dengan warisan budaya dunia dari berbagai negara. Ini adalah tempat untuk memperkenalkan budaya Kutai ke dunia internasional.

5. Tanda Festival Pribumi Solo

Rambu Solo adalah kegiatan atau prosesi pengiriman Jenasah ke Alam Puya (Nirvana)

Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Toraja, kegiatan budaya yang merupakan tradisi yang diadakan secara turun-temurun adalah prosesi pemakaman yang dikenal sebagai Rambu Solo.

Rambu Solo adalah kegiatan atau prosesi untuk membawa Jenasah ke Alam Puya (Nirvana), dalam kegiatan ini keluarga dari almahum datang untuk membawa tanda-tanda seperti kerbau, babi yang digunakan dalam kegiatan ini.

Ma lambuk salah satu kegiatan Rambu Solo di Toraja

Salah satu daya tarik di Festival Solo Rambu adalah Palao, yaitu saat Jenasah dikirim dari Alang (lumbung padi) ke Lakian (tempat Jenas disimpan sebelum dimakamkan). Selain itu aktivitas kerbau juga merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menonton aktivitas Rambu Solo.
Dan ada banyak aktivitas lain yang bisa Anda tonton.

6. Festival Budaya Lembah Baliem

Baliem Valley Culture Festival (FBLB) adalah acara perang antar suku (Gambar: Youtube chanel stonecold pictures)

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) adalah acara perang antar suku yang diadakan sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Suku asli Papua yang tersebar di beberapa lokasi akan berkumpul di lembah ini ketika festival berlangsung mulai dari suku Dani, Yali, hingga Suku Lani

Baca: Wisata Religi Toraja Burake

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) pertama kali diadakan pada tahun 1989. Sejak itu FBLB telah diadakan secara rutin setiap tahun di pertengahan tahun (Juni / Juli / Agustus).

Keindahan Lembah Baliem adalah daya tarik utama bagi pecinta fotografer (Gambar: Gambar gerak Youtube chanel stonecold)

Keindahan Lembah Baliem adalah daya tarik utama bagi pecinta fotografer, di mana Lembah Baliem terletak di ketinggian 1.600 meter di atas Pegunungan Jayawijaya dengan lebar sekitar 80 km.

7. Festival Pasola

Melalui Festival Pasola, Anda akan diundang untuk melihat kelihaian para penunggang kuda yang saling serang menggunakan sejenis senjata lembing kayu (Gambar: Saluran Youtube Jelajahi Sumba)

Melalui Festival Pasola, Anda akan diundang untuk melihat kelihaian para penunggang kuda yang saling serang menggunakan sejenis senjata lembing kayu yang disebut Pasola.

Baca: Legenda Gunung di Pulau Jawa

Pasola adalah bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Sumba untuk menyambut masa panen dan penanaman di Pulau Sumba, NTB. Game Pasola diadakan di empat desa di kabupaten Sumba Barat. Keempat desa termasuk Kodi, Lamboya, Wonokaka dan Gaura.

Melalui Festival Pasola, Anda akan diundang untuk melihat kelihaian para penunggang kuda yang saling serang menggunakan sejenis senjata lembing kayu (Gambar: Saluran Youtube Jelajahi Sumba)

Pasola dimulai dengan kebiasaan nyale mencari cacing laut yang dilakukan selama bulan purnama dan ritual pajura (perkelahian di pantai) saat fajar.

Baca: Pesona Pulau Samalona

Meskipun puncak Pasola tampak keras, turnamen ini adalah
bagian dari kepercayaan tradisional Marapu tentang Sumba, tempat Pasola berada
adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ritual tahunan
diadakan bersamaan dengan ritual Bau Nyale (mirip dengan di
Pulau Lombok) atau kedatangan badai salju di sepanjang pantai Sumba,
yang biasanya terjadi pada bulan Februari dan Maret.