Menjelang jam makan siang berakhir, kantin mulai sepi. Seorang teman yang sedang patah hati datang. Dia ambil bangku lalu digesernya ke pojok agar bisa bersandar di dinding. Tak berapa lama dia mengeluarkan gawai dari saku celana. Sebuah lagu berbahasa Jawa diputar. Ya, lagu Didi Kempot.

Didi merupakan penyanyi campursari asal Solo, dan telah berkecimpung lebih dari 30 tahun. Bisa dikatakan musisi bernama asli Didi Prasetyo itu adalah legenda musik tanah air. Tapi kemunculannya kini lebih dahsyat. 

Tema lagu-lagu Didi kebanyakan bersoal kesedihan dan patah hati, tema yang selalu relevant dengan orang-orang. Ditambah olah lirik yang mengiris kalbu, makin membuat lagu-lagu Didi disukai. Apalagi, genre campursari sudah sangat umum di  masyarakat. Di warung kopi sudut terminal, bus antar kota, kawinan di kampung, sering diputar musik Campursari. 

Tak hanya itu, judul lagu-lagu Didi Kempot juga kerap mengangkat tempat-tempat umum. Mulai dari stasiun, terminal, pelabuhan, taman, tempat wisata, kota-kota, hingga bukit. Misalnya lagu Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Banyu Langit dan Taman Jurug.

Stasiun Balapan menceritakan seorang yang mengantar kekasihnya pergi. Bisa dibayangkan dia sedang berdiri di peron saat klakson kereta tanda siap berangkat dibunyikan. Kereta pun mulai berjalan, dia masih bisa melihat kekasihnya di jendela kereta. Dan mereka saling melambaikan tangan tanda perpisahan. Lalu lagu Terminal Tirtonadi yang bercerita tentang seorang yang mengantarkan pasangannya pergi,  menunggu kedatangan bus malam.

Lewat lagu Banyu Langit Didi memperkenalkan wisata Nglanggeran, dikenal sebagai gunung Merapi Purba, sebuah daerah di Wonosari Gunung Kidul. Kabupaten yang dikenal gersang dan tandus. Tapi Didi mengambarkannya sebagai daerah yang dingin, dengan semilir angin. Orang-orang pun mulai melirik tempat itu.

Tempat wisata rakyat lain yang diangkat adalah Taman Jurug. Dalam lagu ini, Didi menggambarkannya dengan lebih detail. Orang-orang berwisata di taman tepi sungai Bengawan Solo, siang maupun malam. Menikmati bulan yang sedang bercermin di permukaan air sungai, dengan bayang-bayang pucuk cemara.

Kini tempat-tempat di lagu Didi itu sudah tidak seperti yang diceritakannya. Kita tidak akan menemukan momen seperti pada lagu Stasiun Balapan, karena pengantar sudah dilarang masuk peron. Terminal Tirtonadi, dan banyak terminal lainnya, sangat ramai dahulu. Bus masih menjadi pilhan utama, mudah dan murah. Tapi kini terminal-terminal sepi. Taman Jurug pun demikian, kini orang lebih suka pergi ke mall, cafe, atau bioskop.

Pada konteks sekarang, lagu Didi menjadi semacam teks dokumenter toponimi kota. Bagaimana gambaran stasiun, terminal, pelabuhan, taman, bukit, atau objek wisata masa lalu. Dan Didi menghadirkan tempat-tempat itu dengan lebih romantis.

Darinya, kita bisa membaca bahwa kekuatan lirik Didi Kempot barangkali lebih tajam dari pisau. Ia mampu menusuk kesadaran orang-orang tentang transportasi, tata ruang kota, hingga konservasi alam sekitar kita. Tanpa sadar, kita mungkin sedang merayakannya, lewat nada-nada Campursari yang (masih kerap) dipandang sebelah mata itu.

Sumber foto: pkn.kebudayaan.id

The post Belajar Dari Didi Kempot appeared first on Kebudayaan Indonesia.